Sabtu, 12 Januari 2019

MENGINTIP BANGUNAN KERATON LEBIH DALAM

MENGINTIP BANGUNAN KERATON LEBIH DALAM

Kota Cirebon merupakan kota yang berada di pesisir pantai pulau jawa atau yang biasa di kenal sebagai jalur pantura dan di kenal juga sebagai kota udang ini memiliki banyak kisah sejarah kejayan islam di masa lalu.Setidaknya terdapat tiga keraton yang menunjukan hal tersebut.Setiap keraton memiliki perpaduan arsitektur kebudayaan islam,china dan belanda.Ciri bangunan keraton sendiri adalah selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid di dekatnya,setiap keraton memiliki alun-alun di depannya sebagai tempat berkumpulnya masyarakat.selanjutnya terdapat Pintu Kahagung atau lawang kahagung  yang merupakan pintu pembatas anatara umum dan khusus.sebagaimana arti dari kahagung sendiri adalah gapura yang berarti pengesahan atau perizinan.di gapura tersebut terdapat banyak ukiran yang memiliki banyak arti dan makna yang terkandung di dalaamnya.beberapa ukiran tersebut diantaranya ukiran yang berada di bagian bawah yang diibaratkan sebagai lapisan bumi atau yang biasa di sebut wedasan sedangkan di bagian atas terdapat ukiran mega mendung yang berarti bahwa di bawah harus kuat di atas harus indah dan tinggi.terdapat juga ukiran yang berupa gunungan-gunungan yang berarti bahwa kehidupan berjalan naik turun.ada juga ukiran seperti tumbuhan pandan wangi yang melambangkan sebuah keyakinan akan tumbuh di hati yang keras sekalipun.kemudian ada juga ukiran seperti lambang istana atau rumah yang artinya sebagai naungan atau tempat berteduh.dan yang menjadi inti dari ukiran-ukiran tersebut adalah sebuah ukiran yang berbentuk ikan dengan tiga kepala atau iwak jilu yang dimana arti dari lambang itu adalah bahwa pada awalnya Cirebon satu kesultanan yaitu sunan gunung jati yang kemudian terpecah menjadi tiga keraton yaitu keraton kasepuhan,keraton kanoman dan keraton kacirebonan.
Masuk lebih ke dalam lagi di sisi kanan dan kiri terdapat dua buah bangunan yang sama bentuknya yang di sebut sebagai pasembahan kulon dan pasembahan wetan,dimana tempat tersebut di fungsikan dulunya sebagai tempat penerimaan tamu dan juga biasa di gunakan sebagai tempat latihan tari khas Cirebon yaitu tari topeng sekarang juga di gunakan sebagai tempat pembayaran tiket masuk keraton.isi dari pasembahan tersebut adalah lukisan-lukisan,berbagai macam info yang di tempatkan di papan informasi.
Setelah memasuki pintu kahagung ada pintu kedua atau gerbang kedua yang di sebut pintu slamet tangkep merupakan pintu utama sebelum memasuki gedung utama keraton Pintu ini di buka pada saat upacara khusus saja jadi jika tidak ada upacara atau tamu khusus pintu tersebut tidak akan di buka,sedangkan para pengunjung yang datang dapat masuk atau melewati pintu kliningan yang berada di sis kanan dan kiri pintu slamet tangkep,pintu kliningan tersebut melambangkan dua kalimaat syahadat.
Memasuki ke bangunan yang menjadi inti dari keraton adalah sebuah museum yang berukuran tidak cukup besar tetapi di dalamnya terdapat berbagai ruangan dan benda-benda peninggalan terdahulu.di bagian depan museum terdapat sebuah halaman yang tidak cukup luas tetapi rindang karena di sekelilingnya terdapat pepohonan dan bangku-bangku yang memutar untuk tempat para pengunjung berdiskusi atau sekedar mrngobrol saja.Di teras museum terdapat sebuah ruangan yang ukurannya cukup luas yang di sebut sebagai prabayaksa,dimana ini adalah ruang utama dari keraton yang biasa di gunakan sultan dan keluarganya untuk menggelar acara dan upacara-upacara besar,seperti penobatan sultan,menerima tamu agung pejabat tinggi Negara dan juga tradisi panjang jimat.Terdapat juga sekateng yang merupakan penghubung antara prabayaksa dengan ruangan di bagian dalam keraton.
Sedangkan memasuki bagian dalam keraton,pengunjung akan di sambut dengan berbagai macam senjata yang menjadi salah satu koleksi di keraton,ada juga alat-alat musik,peralatan rumah tangga,naskah-naskah kuno,berbagai macam aksesoris dan pakaian sultan dan terdapat juga berbagai macam ssuvenir yang di perjualbelikan sebagai cinderamata setelah berkunjung ke keraaton kacirebonan.

0 comments:

Posting Komentar